Ketika Allah Mengajarimu untuk Tidak Bersandar kepada Selain-Nya
Kita sering membayangkan bahwa mendekat kepada Allah akan membuat hidup semakin tenang.
Hati menjadi damai.
Masalah berkurang.
Jalan terasa lapang.
Doa-doa seperti lebih mudah menemukan jawabannya.
Namun, ada kalanya perjalanan kepada Allah justru membawa kita melewati jalan yang tidak pernah kita pilih.
Kita kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Harapan yang sudah lama kita bangun tiba-tiba runtuh.
Orang yang selama ini menjadi tempat bersandar pergi.
Rencana yang kita yakini terbaik ternyata tidak terjadi.
Lalu kita bertanya:
“Ya Allah, bukankah aku sedang berusaha mendekat kepada-Mu? Mengapa justru hidup terasa semakin berat?”
Mungkin di situlah kita sedang belajar sesuatu yang jauh lebih dalam.
Bahwa mendekat kepada Allah bukan hanya tentang mendapatkan apa yang kita inginkan dari-Nya.
Tetapi juga tentang belajar tetap bersama-Nya ketika apa yang kita inginkan tidak diberikan.
Sebab mudah mengatakan “aku percaya kepada Allah” ketika semuanya berjalan sesuai harapan.
Yang lebih sulit adalah tetap bersujud ketika doa belum terjawab.
Tetap percaya ketika jalan di depan terlihat gelap.
Tetap mengatakan “Allah Maha Baik” ketika hati sedang berusaha memahami mengapa sesuatu yang kita cintai harus pergi.
Di situlah iman tidak lagi sekadar menjadi kata-kata.
Ia mulai menjadi pengalaman.
1. Ujian Kadang Membuka Apa yang Selama Ini Tersembunyi
Setiap orang memiliki titik lemah yang berbeda.
Ada yang terlalu bergantung kepada manusia.
Ada yang diam-diam menggantungkan harga dirinya pada pujian.
Ada yang merasa aman karena harta.
Ada pula yang merasa hidupnya baik-baik saja selama semua rencananya berjalan sesuai keinginan.
Kemudian datanglah sebuah ujian.
Bukan selalu untuk menghancurkan kita.
Bisa jadi justru untuk memperlihatkan kepada kita di mana sebenarnya hati kita bersandar.
Karena kita sering baru menyadari sesuatu ketika ia hilang.
Kita baru tahu betapa bergantungnya kita kepada seseorang ketika orang itu pergi.
Kita baru tahu betapa besar kecintaan kita kepada dunia ketika sesuatu yang kita miliki harus dilepaskan.
Dan kita baru benar-benar belajar bersandar kepada Allah ketika tidak ada lagi yang bisa kita andalkan.
2. Tidak Semua Luka Harus Segera Dimengerti
Ada luka yang tidak langsung kita pahami.
Kita hanya bisa menangis.
Berdoa.
Bertanya.
Lalu menjalani hari demi hari.
Mungkin kita tidak perlu terburu-buru mencari alasan di balik semuanya.
Sebab tidak semua rahasia takdir harus kita pecahkan hari ini.
Terkadang yang Allah minta dari kita bukan memahami seluruh jalan-Nya, tetapi tetap berjalan bersama-Nya meskipun kita belum melihat ujungnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan menoleh ke belakang dan berkata:
“Ternyata dulu aku tidak sedang ditinggalkan. Aku sedang diarahkan.”
3. Ada Saatnya Allah Mengajarkan Kita Melepaskan
Kita ingin memiliki.
Mempertahankan.
Mengendalikan.
Memastikan semuanya berjalan seperti yang kita rencanakan.
Padahal tidak ada satu pun yang benar-benar berada dalam genggaman kita.
Harta bisa berkurang.
Kesehatan bisa berubah.
Manusia bisa pergi.
Kedudukan bisa hilang.
Bahkan kehidupan sendiri suatu saat harus kita tinggalkan.
Maka mungkin salah satu pelajaran terbesar dalam hidup adalah belajar mengatakan:
“Aku mencintaimu, tetapi aku tahu engkau bukan milikku selamanya.”
Kita boleh mencintai dunia.
Tetapi jangan sampai dunia menjadi tempat terakhir hati kita bergantung.
4. Ego Sering Kali Harus Dilembutkan
Ada bagian dalam diri kita yang ingin selalu merasa benar.
Ingin menang.
Ingin dihargai.
Ingin dianggap penting.
Ingin mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bahkan dalam beribadah pun, tanpa sadar kita bisa membawa ego itu.
Kita ingin doa kita segera dikabulkan.
Kita ingin hidup kita sesuai rencana.
Kita ingin Allah memberikan apa yang kita minta dengan cara yang kita inginkan.
Sampai suatu ketika kita belajar:
Allah bukan yang mengikuti rencana kita. Kitalah yang belajar mengikuti kehendak-Nya.
Di situlah ego perlahan dilunakkan.
Bukan agar kita menjadi lemah.
Tetapi agar kita tahu posisi kita sebagai hamba.
5. Kesendirian Tidak Selalu Berarti Allah Meninggalkan Kita
Ada masa ketika telepon tidak berdering.
Pesan tidak datang.
Orang-orang yang dulu ramai berada di sekitar kita perlahan menjauh.
Sunyi.
Sepi.
Dan kita merasa sendirian.
Tetapi mungkin kesunyian itu justru memberi kita kesempatan untuk mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh suara dunia:
suara hati kita sendiri.
Di tengah keramaian, kita mudah lupa kepada Allah.
Dalam kesendirian, kita mulai mencari-Nya.
Kita mulai lebih lama berdoa.
Lebih lama bersujud.
Lebih jujur ketika berbicara kepada-Nya.
Dan perlahan kita menemukan bahwa ternyata sendirian tidak selalu berarti kesepian.
Ada Allah yang tidak pernah pergi.
6. Ketika Dunia Tidak Lagi Memberi Rasa Aman
Ada masa ketika semua yang kita andalkan seolah tidak lagi mampu menyelamatkan kita.
Uang tidak selalu bisa membeli ketenangan.
Manusia tidak selalu bisa menolong.
Rencana tidak selalu berjalan.
Logika tidak selalu menemukan jawaban.
Pada titik tertentu kita hanya mampu berkata:
“Ya Allah, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya tahu Engkau ada.”
Mungkin kalimat sederhana seperti itulah yang justru menjadi doa paling jujur.
Sebab terkadang manusia baru benar-benar mengenal arti tawakal setelah seluruh kemampuan dirinya terasa tidak cukup.
7. Jangan Menganggap Setiap Kesulitan Sebagai Hukuman
Ini penting.
Tidak setiap musibah berarti Allah sedang menghukum.
Tidak setiap kehilangan berarti kita sedang dibenci.
Tidak setiap kegagalan berarti kita telah salah jalan.
Kita tidak mengetahui seluruh rahasia takdir.
Bisa jadi sebuah kesulitan menjadi ujian.
Bisa jadi menjadi pengingat.
Bisa jadi menjadi jalan perubahan.
Dan bisa jadi kita baru memahami hikmahnya jauh setelah semuanya berlalu.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, mungkin lebih baik kita tidak sibuk menebak:
“Mengapa Allah melakukan ini kepadaku?”
Tetapi mulai bertanya:
“Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
8. Kedekatan kepada Allah Bukan Berarti Hidup Tanpa Air Mata
Orang yang dekat kepada Allah tetap bisa menangis.
Tetap bisa kecewa.
Tetap bisa merasa takut.
Tetap bisa merasa lemah.
Bedanya, ia tidak membiarkan kesedihan membuatnya berpaling dari Allah.
Ia menangis, lalu berdoa.
Ia kecewa, lalu bersujud.
Ia tidak memahami takdir, tetapi tetap percaya kepada Tuhan yang menetapkannya.
Karena kuat bukan berarti tidak pernah hancur.
Kuat adalah ketika setelah hancur, kita masih tahu kepada siapa harus kembali.
9. Pada Akhirnya, Semua yang Kita Pegang Akan Kita Lepaskan
Suatu hari nanti, kita akan meninggalkan semuanya.
Rumah.
Harta.
Jabatan.
Pujian.
Rencana.
Orang-orang yang kita cintai.
Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat pun akan kembali kepada tanah.
Maka mungkin pertanyaan terbesar dalam perjalanan hidup bukanlah:
“Berapa banyak yang berhasil aku miliki?”
Tetapi:
“Ketika semuanya perlahan dilepaskan dariku, apakah hatiku masih memiliki Allah?”
Sebab dunia boleh berada di tangan kita.
Tetapi jangan sampai ia mengambil tempat Allah di dalam hati kita.
10. Mungkin Inilah Arti Sebenarnya dari Berserah
Berserah bukan berarti berhenti berusaha.
Bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar.
Bukan pula berarti tidak boleh memiliki keinginan.
Berserah adalah melakukan apa yang mampu kita lakukan, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Berusaha tanpa merasa paling menentukan.
Berdoa tanpa memaksa Allah mengikuti keinginan kita.
Mencintai tanpa lupa bahwa semua yang kita cintai adalah titipan.
Dan ketika sesuatu harus pergi, kita belajar mengucapkan:
“Ya Allah, aku tidak mengerti mengapa ini terjadi. Tetapi aku percaya Engkau lebih tahu apa yang tidak aku ketahui.”
Mungkin pada akhirnya, perjalanan kepada Allah bukanlah perjalanan untuk mendapatkan semua yang kita inginkan.
Melainkan perjalanan untuk menemukan bahwa tanpa semua yang kita inginkan pun, kita masih bisa hidup bersama-Nya.
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan iman:
Ketika kehilangan tidak lagi membuat kita kehilangan Allah.
Ketika kesendirian tidak lagi membuat kita merasa sendirian.
Ketika doa yang belum terjawab tidak membuat kita berhenti berharap.
Dan ketika dunia perlahan melepaskan genggamannya atas kita, hati justru semakin kuat menggenggam Allah.
Sebab bisa jadi, yang sedang Allah lepaskan dari tangan kita bukanlah sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup—melainkan sesuatu yang selama ini membuat kita lupa kepada-Nya.















