INCENG: Kenali Sebelum Berinteraksi, Pahami Sebelum Menilai

Pernahkah Anda bertemu seseorang untuk pertama kalinya, lalu beberapa menit kemudian muncul sebuah kesan? “Orangnya kelihatannya keras.” “Sepertinya dia pendiam.” “Wah, sepertinya orang ini mudah diajak bekerja sama.” Atau sebaliknya: “Entah kenapa saya merasa kurang cocok dengannya.” Kesan seperti itu sangat manusiawi. Kita memang terbiasa membaca orang lain melalui cara berbicara, ekspresi wajah, bahasa tubuh,…

Pernahkah Anda bertemu seseorang untuk pertama kalinya, lalu beberapa menit kemudian muncul sebuah kesan?

“Orangnya kelihatannya keras.”

“Sepertinya dia pendiam.”

“Wah, sepertinya orang ini mudah diajak bekerja sama.”

Atau sebaliknya:

“Entah kenapa saya merasa kurang cocok dengannya.”

Kesan seperti itu sangat manusiawi. Kita memang terbiasa membaca orang lain melalui cara berbicara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun pengalaman kita sebelumnya.

Tetapi ada satu persoalan:

Kesan pertama belum tentu menggambarkan seseorang secara utuh.

Seseorang yang terlihat pendiam belum tentu tidak ramah. Seseorang yang terlihat tegas belum tentu kasar. Dan seseorang yang terlihat menyenangkan belum tentu selalu mudah diajak bekerja sama.

Karena itu, sebelum berinteraksi lebih jauh, mungkin kita membutuhkan satu hal sederhana:

insight.

Dari gagasan itulah lahir INCENG — Insight Sebelum Berinteraksi.


Apa Itu INCENG?

INCENG adalah sebuah aplikasi yang dirancang sebagai teman refleksi sebelum dan sesudah kita berinteraksi dengan seseorang.

Konsepnya sederhana.

Sebelum bertemu atau berinteraksi, kita bisa memperoleh gambaran awal berdasarkan weton seseorang.

Namun INCENG tidak dimaksudkan untuk menentukan bahwa seseorang pasti memiliki sifat tertentu.

Sebaliknya, informasi tersebut digunakan sebagai bahan untuk mengamati dan memahami, bukan untuk menghakimi.

Dengan kata lain:

INCENG bukan alat untuk menilai seseorang. INCENG adalah alat untuk membantu kita lebih sadar ketika berinteraksi.

Inilah yang menjadi pembeda utama INCENG.


Mengapa Weton?

Dalam budaya Jawa, weton merupakan bagian dari warisan pengetahuan yang telah digunakan secara turun-temurun untuk memahami karakter dan kecenderungan seseorang.

INCENG mengambil pendekatan tersebut sebagai referensi budaya dan bahan refleksi.

Tetapi ada prinsip penting yang perlu diingat:

Weton bukan label.

Manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar tanggal kelahiran.

Kepribadian seseorang dibentuk oleh banyak hal: keluarga, pendidikan, pengalaman hidup, lingkungan, kebiasaan, nilai-nilai yang diyakini, serta pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Karena itu, informasi weton dalam INCENG sebaiknya diperlakukan sebagai hipotesis awal untuk diamati, bukan sebagai kesimpulan akhir.


Jangan Menilai Sebelum Mengamati

Bayangkan Anda akan bertemu seseorang yang belum terlalu Anda kenal.

Anda mengetahui wetonnya.

INCENG memberikan gambaran mengenai kecenderungan karakter yang dapat menjadi bahan perhatian Anda.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apakah orang tersebut benar-benar seperti gambaran itu ketika Anda bertemu dengannya?

Di sinilah fitur “AMATI SAAT BERTEMU” menjadi menarik.

Alih-alih langsung percaya pada informasi yang diberikan, Anda diajak memperhatikan perilaku nyata.

Bagaimana cara dia berbicara?

Bagaimana dia merespons orang lain?

Bagaimana dia menghadapi perbedaan pendapat?

Bagaimana sikapnya ketika berada dalam situasi tertentu?

Dengan demikian, INCENG menggeser perhatian kita dari:

“Dia orangnya seperti apa?”

menjadi:

“Apa yang sebenarnya saya lihat ketika berinteraksi dengannya?”

Perubahan kecil ini dapat membuat kita menjadi lebih objektif.


Tiga Pertanyaan Saat Bertemu

Dalam fitur AMATI SAAT BERTEMU, INCENG membantu pengguna melakukan pengamatan melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang disesuaikan dengan konteks interaksi.

Mengapa konteks penting?

Karena seseorang bisa menunjukkan perilaku yang berbeda dalam situasi yang berbeda.

Seseorang mungkin sangat santai ketika bersama teman, tetapi sangat serius ketika bekerja.

Seseorang mungkin terlihat pendiam ketika pertama kali bertemu, tetapi menjadi sangat terbuka setelah merasa nyaman.

Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya:

“Bagaimana karakter orang ini?”

Kita juga perlu bertanya:

“Bagaimana perilakunya dalam situasi yang sedang saya hadapi?”

Inilah pendekatan yang ingin dibangun INCENG.


Setelah Bertemu, Jangan Berhenti di Kesan

Salah satu bagian menarik dari INCENG adalah fitur “SETELAH BERTEMU”.

Mengapa perlu ada tahap setelah bertemu?

Karena sering kali kita membuat kesimpulan terlalu cepat.

Pertemuan selesai.

Kemudian muncul pikiran:

“Kayaknya orang ini cocok dengan saya.”

atau:

“Sepertinya saya tidak cocok dengan dia.”

Padahal, kesimpulan tersebut mungkin hanya berdasarkan beberapa menit interaksi.

Melalui fitur setelah bertemu, pengguna diajak kembali melihat pengalaman interaksi tersebut.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah kesan awal saya sesuai dengan apa yang saya amati?

Apakah ada hal yang ternyata berbeda dari dugaan saya?

Dengan cara ini, INCENG bukan hanya membantu kita “membaca orang lain”, tetapi juga membantu kita membaca diri sendiri.


INCENG Bukan Ramalan

Ini bagian yang sangat penting.

INCENG bukan aplikasi untuk meramal masa depan.

INCENG juga tidak mengatakan:

“Orang dengan weton tertentu pasti seperti ini.”

Manusia tidak sesederhana itu.

Informasi mengenai weton hanyalah titik awal.

Yang lebih penting adalah perilaku nyata ketika kita berinteraksi.

Karena itu, INCENG menggunakan pendekatan:

Kenali → Amati → Interaksikan → Refleksikan.

Bukan:

Kenali → Percaya → Nilai.

Perbedaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.


Untuk Siapa INCENG?

INCENG dapat digunakan oleh siapa saja yang ingin lebih berhati-hati dan sadar dalam berinteraksi dengan orang lain.

Misalnya:

Dalam pertemanan

Anda akan bertemu orang baru dan ingin memiliki gambaran awal tanpa terburu-buru membuat penilaian.

Dalam pekerjaan

Anda akan berhadapan dengan rekan kerja, calon mitra, atau orang yang baru bergabung dalam sebuah tim.

Dalam bisnis

Anda ingin memahami gaya interaksi seseorang sebelum membangun hubungan bisnis lebih jauh.

Dalam hubungan sosial

Anda ingin memahami bahwa setiap orang memiliki kecenderungan dan cara merespons yang berbeda.

Dalam proses mengenal seseorang

Bukan untuk menentukan apakah seseorang “baik atau buruk”, tetapi untuk membantu Anda lebih sadar terhadap dinamika interaksi.


Dari “Menilai” Menjadi “Memahami”

Mungkin inilah gagasan terbesar yang ingin dibawa INCENG.

Kita hidup di tengah banyak interaksi.

Setiap hari kita bertemu orang.

Berbicara dengan orang.

Bekerja dengan orang.

Berdiskusi dengan orang.

Tetapi tidak jarang kita menilai seseorang hanya berdasarkan beberapa menit pertama.

Padahal, bisa jadi kita sedang melihat seseorang hanya dari satu halaman kecil dari sebuah buku yang sangat panjang.

INCENG mengajak kita untuk memperlambat proses tersebut.

Bukan berarti kita harus menjadi ragu kepada semua orang.

Bukan pula berarti kita harus mengabaikan intuisi.

Tetapi kita belajar memberikan ruang antara:

kesan pertama

dan

kesimpulan.

Ruang kecil itulah yang disebut kesadaran.


INCENG Mengajak Kita Lebih Sadar Saat Berinteraksi

Pada akhirnya, INCENG bukan hanya tentang weton.

Weton hanyalah salah satu pintu masuk.

Tujuan yang lebih besar adalah membangun kebiasaan:

mengenali → mengamati → memahami → kemudian menentukan sikap.

Sebab dalam hubungan antarmanusia, mungkin masalahnya bukan selalu karena kita bertemu orang yang salah.

Kadang-kadang kita hanya belum cukup memahami orang yang sedang kita hadapi.

Dan mungkin, sebelum bertanya:

“Orang ini seperti apa?”

kita perlu belajar bertanya:

“Apa yang sebenarnya saya lihat?”

Itulah semangat INCENG.

INCENG

Insight Sebelum Berinteraksi

Kenali sebelum menilai.
Amati ketika bertemu.
Refleksikan setelah berinteraksi.

Karena memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar kesan pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About the Author

Bondan Sutedjo

Untuk BAHAGIA butuh KEBERANIAN. Itu tidak tergantung istri, suami, anak, orang tua, apalagi orang lain?! Namun kita perlu paham dulu, BAHAGIA itu apa? Bahagia TIDAK SAMA DENGAN Kesenangan. Kesenangan bisa hilang. Hari ini senang, besok bisa tidak senang lagi. Kalau bahagia, sekali kau dapat berlaku SELAMANYA. Mau bahagia?