Pernahkah tubuh kita sedang sholat, tetapi pikiran kita justru berada di tempat lain?
Kita berdiri menghadap kiblat. Takbir sudah diucapkan. Al-Fatihah sedang dibaca.
Tetapi tiba-tiba muncul pikiran tentang pekerjaan.
Lalu teringat pesan WhatsApp yang belum dibalas.
Kemudian teringat urusan rumah.
Belum lagi persoalan keuangan, anak, pasangan, orang tua, atau berbagai hal yang terjadi sepanjang hari.
Kita baru tersadar beberapa saat kemudian.
“Tadi saya sedang membaca apa, ya?”
Pernah mengalaminya?
Jika pernah, Anda tidak sendirian.
Pikiran yang mengembara saat sholat adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Kita tentu ingin khusyuk, tetapi menginginkan pikiran sama sekali tidak bergerak ternyata tidak semudah yang kita bayangkan.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara menghadapi pikiran yang mengembara saat sholat?
Mungkinkah kita benar-benar menghentikannya?
Apakah pikiran yang mengembara berarti kita tidak khusyuk?
Kita sering membayangkan khusyuk sebagai keadaan ketika pikiran sepenuhnya tertuju kepada Allah dari takbir pertama sampai salam.
Akibatnya, ketika menyadari pikiran kita pergi, kita langsung merasa gagal.
“Saya tidak bisa khusyuk.”
“Sholat saya selalu tidak fokus.”
“Kenapa pikiran saya ke mana-mana?”
Namun mungkin kita perlu melihat persoalan ini dari sudut yang sedikit berbeda.
Ada perbedaan antara tidak pernah kehilangan perhatian dan mampu menyadari ketika perhatian hilang lalu mengembalikannya.
Yang pertama mungkin sangat sulit.
Yang kedua bisa dilatih.
Bayangkan kita sedang berjalan di sebuah jalan. Tanpa sadar kita mengambil jalan yang salah.
Apa yang kita lakukan?
Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena sempat salah jalan.
Kita cukup menyadarinya, lalu kembali ke jalan yang benar.
Begitu pula dengan perhatian kita dalam sholat.
Pikiran pergi. Kita sadar. Kita kembali.
Pikiran pergi lagi.
Kita sadar lagi. Kita kembali lagi.
Di situlah latihan dimulai.
Mengapa semakin dilawan, pikiran justru terasa semakin kuat?
Coba lakukan percobaan sederhana.
Saya meminta Anda:
Jangan pikirkan gajah.
Apa yang terjadi?
Kemungkinan besar, justru gambar gajah muncul di kepala.
Ini menggambarkan sesuatu yang sederhana tentang pikiran manusia: semakin kita berusaha keras untuk mengusir sebuah pikiran, perhatian kita justru bisa semakin tertuju kepadanya.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu berperang dengan pikiran ketika sedang sholat.
Ketika muncul pikiran tentang pekerjaan, misalnya, kita tidak perlu berkata:
“Jangan pikir pekerjaan!”
Sebab tanpa sadar kita justru sedang memikirkan pekerjaan.
Cobalah pendekatan yang lebih lembut:
“Oh, pikiran saya sedang memikirkan pekerjaan.”
Sadar.
Kemudian kembali membaca.
Tidak perlu mengikuti ceritanya.
Tidak perlu menyelesaikan masalahnya.
Tidak perlu memarahinya.
Cukup kembali.
Yang perlu dilatih bukan pikiran agar tidak pergi, tetapi kesadaran untuk kembali
Inilah bagian yang menurut saya sangat penting.
Kita mungkin tidak memiliki kendali penuh atas pikiran apa yang muncul.
Tetapi kita dapat belajar mengenali ketika perhatian kita sudah terbawa oleh pikiran tersebut.
Misalnya kita sedang membaca Al-Fatihah.
Tiba-tiba kita sadar:
“Saya tadi membaca, tetapi pikiran saya sedang memikirkan pekerjaan.”
Jangan kecewa.
Justru kesadaran itulah momen pentingnya.
Karena sebelumnya kita tidak sadar.
Sekarang kita sadar.
Dan setelah sadar, kita memiliki pilihan:
mengikuti pikiran itu atau kembali kepada sholat.
Kita memilih kembali.
Itulah latihan.
Jangan mengukur keberhasilan dari berapa kali pikiran pergi
Ini mungkin perubahan kecil dalam cara kita melihat kekhusyukan.
Jangan berkata:
“Saya gagal khusyuk karena pikiran saya mengembara 20 kali.”
Cobalah menggantinya dengan:
“Saya berhasil menyadari pikiran saya mengembara dan mengembalikannya 20 kali.”
Bukankah sudut pandangnya menjadi berbeda?
Kita tidak lagi sibuk menghukum diri sendiri.
Kita sedang belajar.
Setiap kali sadar dan kembali, kita sedang melatih perhatian.
Mungkin pada awalnya kita baru sadar setelah beberapa menit.
Tidak apa-apa.
Lama-kelamaan kita mungkin mulai menyadarinya lebih cepat.
Dari beberapa menit menjadi satu menit.
Dari satu menit menjadi beberapa puluh detik.
Bukan karena pikiran kita menjadi sempurna.
Tetapi karena kesadaran kita semakin peka.
Bagaimana latihan sederhana ini dilakukan saat sholat?
Tidak perlu membuat latihan yang rumit.
Cobalah mulai dari satu hal.
Ketika takbiratul ihram, sadari bahwa Anda sedang memulai sholat.
Kemudian ketika membaca Al-Fatihah, dengarkan bacaan Anda sendiri.
Tidak sekadar mengucapkannya.
Sadari bahwa Anda sedang membaca.
Jika pikiran pergi, jangan panik.
Sadar.
Kemudian kembali kepada bacaan.
Ketika rukuk, sadari bahwa Anda sedang rukuk.
Ketika sujud, sadari bahwa Anda sedang sujud.
Jika perhatian pergi lagi, kembali lagi.
Tidak perlu sempurna.
Yang penting:
Sadar → kembali.
Sadar → kembali.
Sadar → kembali.
Sesederhana itu.
Bagaimana jika pikiran mengembara sangat sering?
Mungkin ada yang berkata:
“Saya sudah mencoba, tetapi pikiran saya tetap saja ke mana-mana.”
Tidak masalah.
Jangan menjadikan latihan ini sebagai perlombaan untuk mendapatkan sholat yang sempurna.
Jangan pula sibuk menghitung berapa kali pikiran pergi.
Justru setiap kali kita menyadarinya, anggap itu sebagai kesempatan untuk kembali.
Pikiran mengembara bukan akhir dari latihan.
Pikiran yang mengembara justru menjadi kesempatan untuk melatih kesadaran.
Ini sebuah perubahan cara pandang yang sederhana, tetapi penting.
Sholat sebagai latihan mengembalikan perhatian
Kita sholat lima kali sehari.
Artinya, lima kali sehari kita memiliki kesempatan untuk berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan.
Kita meninggalkan sejenak pekerjaan.
Meninggalkan urusan dunia.
Meninggalkan percakapan.
Meninggalkan berbagai kesibukan.
Lalu menghadap Allah.
Tetapi ternyata membawa tubuh menghadap kiblat lebih mudah daripada membawa perhatian kita untuk benar-benar hadir.
Karena itu, sholat dapat menjadi kesempatan untuk terus belajar hadir.
Bukan hanya hadir secara fisik.
Tetapi juga belajar menghadirkan perhatian.
Ketika perhatian pergi, kita membawanya kembali.
Ketika pergi lagi, kita kembalikan lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Kita tidak perlu mengejar kekhusyukan
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar perasaan khusyuk.
Kita ingin merasakan sesuatu yang luar biasa.
Padahal mungkin perjalanan menuju khusyuk justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana:
menyadari apa yang sedang kita lakukan.
Saat membaca, sadar bahwa kita sedang membaca.
Saat rukuk, sadar bahwa kita sedang rukuk.
Saat sujud, sadar bahwa kita sedang sujud.
Dan ketika pikiran pergi, sadar bahwa pikiran telah pergi.
Kemudian kembali.
Dengan perlahan.
Dengan lembut.
Tanpa menyalahkan diri sendiri.
Mungkin kita tidak perlu menghentikan pikiran
Jadi, bisakah kita menghentikan pikiran yang mengembara saat sholat?
Mungkin bukan itu tujuan yang paling tepat.
Pikiran manusia memang akan datang dan pergi.
Yang bisa kita latih adalah kemampuan untuk menyadari ketika perhatian kita pergi dan mengembalikannya.
Pikiran boleh datang.
Pikiran boleh pergi.
Tetapi kita tidak harus ikut pergi bersamanya.
Kita belajar kembali.
Kembali kepada bacaan.
Kembali kepada gerakan.
Kembali kepada kesadaran.
Dan pada akhirnya…
kembali kepada Allah.
Sebuah “kedipan” kecil dalam sholat
Dari sinilah saya melihat bahwa kesadaran dalam sholat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang hanya membutuhkan satu momen kecil.
Kita sedang membaca.
Kemudian sadar:
“Oh… pikiran saya tadi pergi.”
Itu adalah sebuah kedipan kesadaran.
Tidak perlu lama.
Tidak perlu dramatis.
Tetapi kita sadar.
Dan setelah sadar, kita kembali.
Jika dilakukan berulang-ulang, mungkin kita akan mulai melihat sholat dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya sebagai rangkaian gerakan dan bacaan yang harus diselesaikan.
Tetapi sebagai perjalanan untuk belajar hadir.
Belajar menyadari.
Belajar kembali.
Penutup: Jangan takut ketika pikiran pergi
Jika hari ini pikiran Anda masih sering mengembara saat sholat, jangan buru-buru kecewa.
Jangan mengatakan bahwa Anda tidak bisa khusyuk.
Jangan pula menyalahkan diri sendiri.
Ketika pikiran pergi, sadari.
Kemudian kembali.
Itulah latihan.
Besok, mungkin pikiran akan pergi lagi.
Kembali.
Lusa, mungkin pergi lagi.
Kembali lagi.
Sampai akhirnya kita mulai memahami bahwa perjalanan menuju kekhusyukan bukan tentang memenangkan pertarungan melawan pikiran.
Tetapi tentang belajar menyadari ke mana perhatian kita pergi, lalu dengan lembut membawanya kembali.
Karena mungkin…
kita tidak perlu menghentikan pikiran untuk bisa hadir dalam sholat.
Kita hanya perlu belajar menyadari ketika kita pergi—dan memilih untuk kembali.
Kembali kepada sholat.
Kembali kepada diri.
Dan yang paling penting:
kembali kepada Allah.
Tentang Kedipan Kesadaran
Gagasan tentang Kedipan Kesadaran berangkat dari pertanyaan sederhana:
Bisakah kita melatih perhatian agar lebih hadir dalam sholat?
Bukan dengan memaksa pikiran agar kosong.
Bukan dengan memusuhi pikiran yang datang.
Tetapi dengan belajar mengenali momen ketika perhatian mulai pergi, menyadarinya, kemudian mengembalikannya kepada Allah.
Sebuah latihan kecil.
Tetapi dilakukan berulang-ulang.
Karena mungkin, untuk kembali hadir dalam sholat, kita tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Kita hanya perlu belajar menyadari.















