Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini?
Bacaan sholat terasa lancar. Gerakan juga dilakukan seperti biasa. Kita tahu sedang sholat.
Tetapi tiba-tiba, di tengah bacaan, muncul kesadaran:
“Lho… tadi saya sedang memikirkan apa?”
Pikiran ternyata sudah berjalan ke mana-mana.
Mengingat pekerjaan.
Memikirkan keluarga.
Membayangkan percakapan yang belum terjadi.
Teringat pesan WhatsApp yang belum dibalas.
Bahkan kadang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sholat pun bisa muncul begitu saja.
Dan yang menarik, semua itu bisa terjadi sementara mulut tetap membaca dan tubuh tetap melakukan gerakan sholat.
Kita Sering Baru Sadar Setelah Pikiran Pergi
Mungkin ini adalah pengalaman yang cukup banyak dialami oleh kita.
Kita tidak sengaja ingin memikirkan hal-hal tersebut.
Kita datang untuk sholat.
Kita ingin menghadap Allah.
Tetapi pikiran seperti memiliki jalannya sendiri.
Lalu ketika kita menyadarinya, sering kali muncul rasa kesal kepada diri sendiri.
“Kok saya tidak bisa fokus?”
“Kenapa pikiran saya selalu ke mana-mana?”
“Kenapa susah sekali untuk khusyuk?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini justru terkadang membuat kita semakin tegang.
Kita berusaha keras untuk tidak memikirkan apa pun.
Tetapi semakin dilawan, pikiran justru terasa semakin ramai.
Mungkin ada sesuatu yang perlu kita lihat dengan cara berbeda.
Bagaimana Kalau Kita Tidak Perlu Melawan Pikiran?
Saya pernah berada pada situasi yang sama.
Bacaan tetap berjalan.
Gerakan tetap berjalan.
Tetapi perhatian ternyata sudah mengembara.
Kemudian muncul satu hal sederhana:
menyadari bahwa perhatian sedang pergi.
Bukan memarahinya.
Bukan menyalahkan diri sendiri.
Bukan pula berusaha memaksa pikiran menjadi kosong.
Hanya menyadari:
“Oh… perhatian saya sedang pergi.”
Lalu kembali.
Sederhana.
Tetapi bagi saya, justru di situlah perjalanan mulai menarik.
Karena saya mulai menyadari bahwa persoalannya mungkin bukan bagaimana membuat pikiran tidak pernah pergi, tetapi bagaimana kita belajar menyadari ketika perhatian pergi dan kembali menghadirkannya.
Bukankah “Kembali” Itu Bagian dari Perjalanan?
Kita mungkin tidak selalu mampu menjaga perhatian tetap berada di satu tempat.
Tetapi kita bisa belajar untuk mengenali saat perhatian mulai mengembara.
Dan setiap kali menyadarinya, kita memiliki kesempatan untuk kembali.
Kembali kepada bacaan.
Kembali kepada gerakan.
Kembali kepada kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Bagi saya, proses itu bukan tentang menjadi manusia yang tiba-tiba sempurna dalam sholat.
Ini tentang belajar hadir.
Sedikit demi sedikit.
Dari satu sholat ke sholat berikutnya.
Dari Pengalaman Pribadi Menjadi Sebuah Catatan
Saya bukan ustadz.
Saya juga tidak menganggap apa yang saya alami sebagai fatwa, metode baru dalam sholat, ataupun pengganti tuntunan yang sudah ada.
Saya hanyalah seorang Muslim yang mengalami persoalan tersebut dan kemudian mencoba mengamati, belajar, dan mempraktikkannya dalam perjalanan pribadi saya.
Dari proses yang panjang itu, saya menemukan sebuah pengalaman sederhana yang membantu saya menyadari ketika perhatian mulai mengembara dan kemudian mengembalikannya.
Saya menyebut pengalaman itu:
KEDIPAN KESADARAN.
Bukan karena kita ingin menghilangkan pikiran.
Tetapi karena kita belajar mengenali sebuah momen kecil ketika kesadaran kembali menyala.
Momen ketika kita tiba-tiba sadar:
“Saya sedang sholat… tetapi perhatian saya tadi sudah pergi.”
Dan dari kesadaran itulah kita belajar kembali.
Mungkin Anda Juga Mengalaminya
Jika Anda pernah mengalami:
- bacaan sholat tetap lancar tetapi pikiran ke mana-mana,
- tiba-tiba sadar bahwa perhatian sudah lama mengembara,
- ingin lebih hadir dalam sholat tetapi tidak tahu harus mulai dari mana,
- atau sering merasa bersalah karena sulit mempertahankan perhatian,
mungkin Anda tidak sendirian.
Dan mungkin kita tidak harus selalu memulai dengan usaha yang besar.
Kadang, perjalanan untuk kembali justru dimulai dari satu kesadaran kecil.
Saya menuliskan pengalaman dan perjalanan tersebut dalam sebuah ebook berjudul:
KEDIPAN KESADARAN
Sebagai sebuah catatan perjalanan seorang Muslim belajar mengembalikan perhatian dalam sholat.
Buku ini bukan fatwa.
Bukan penelitian ilmiah.
Bukan pula janji bahwa setelah membacanya seseorang pasti menjadi khusyuk.
Ini hanyalah sebuah catatan pengalaman pribadi yang saya bagikan dengan harapan bisa menjadi teman bagi siapa saja yang sedang belajar menghadirkan kembali perhatian dalam sholat.
Karena mungkin…
yang kita perlukan bukan bagaimana agar perhatian tidak pernah pergi, tetapi bagaimana kita belajar untuk selalu kembali.















