Saya tidak pernah berhenti belajar
Saya percaya bahwa selama kita mau belajar, selalu ada kemungkinan untuk menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Nama saya Bondan Sutedjo.
Sejak remaja, saya memiliki satu keyakinan sederhana yang sampai sekarang masih saya pegang:
“Tidak ada yang tidak bisa kalau saya mau belajar dan berusaha.”
Keyakinan itu bukan berarti saya merasa mampu melakukan segala sesuatu. Justru sebaliknya. Bagi saya, kalimat tersebut adalah pengingat bahwa keterbatasan pengetahuan hari ini tidak harus menjadi batas bagi apa yang mungkin kita pelajari esok hari.
Mungkin karena itu, sejak muda saya selalu memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar.
Ketika masih duduk di kelas 1 SLTA, saya sudah mencoba mempelajari buku-buku untuk kelas 2. Ketika masuk perpustakaan, meskipun saya bersekolah di bidang ekonomi, buku yang saya cari justru sering kali bukan buku ekonomi.
Saya tertarik membaca berbagai bidang.
Saya ingin tahu bagaimana manusia berpikir, bagaimana kehidupan bekerja, bagaimana seseorang berkembang, mengapa sesuatu terjadi, dan apa yang sebenarnya berada di balik sesuatu yang terlihat.
Kebiasaan itulah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Mencari di balik yang terlihat
Ada satu hal yang semakin saya sadari tentang diri saya seiring bertambahnya usia.
- Saya tidak terlalu puas hanya dengan mengetahui apa.
- Saya biasanya ingin mengetahui mengapa.
- Dan setelah itu, saya sering bertanya lagi:
- “Apa sebenarnya hakikat dari hal tersebut?”
- Ketika melihat sesuatu, saya tertarik mencari apa yang ada di baliknya.
- Ketika mempelajari sebuah ilmu, saya ingin memahami maknanya.
- Ketika menghadapi persoalan, saya cenderung mencoba melihat akar persoalannya, bukan hanya gejalanya.
- Cara berpikir seperti inilah yang mungkin membuat sebagian ide saya kadang terasa berbeda dari pandangan umum.
- Bahkan saya sering menyebutnya sendiri sebagai “nyleneh.”
Namun semakin bertambah usia, saya justru memahami bahwa tidak semua pemikiran yang berbeda harus ditolak.
Kadang kita memang perlu keluar sebentar dari cara pandang yang biasa digunakan banyak orang agar dapat melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Bekerja Dengan Baik
Dalam perjalanan pekerjaan, saya tidak pernah terlalu berambisi mengejar jabatan tertentu.
Prinsip saya cukup sederhana:
Saya ingin bekerja dengan baik, mendapatkan penghasilan yang halal untuk menghidupi diri dan keluarga, serta menyelesaikan amanah yang diberikan kepada saya dengan sebaik-baiknya.
Namun ketika sebuah tanggung jawab dipercayakan kepada saya, saya berusaha memegangnya dengan sungguh-sungguh.
- Saya bisa menerima kekurangan.
- Saya bisa berdiskusi.
- Saya bisa mengakui kesalahan.
- Tetapi untuk sesuatu yang menurut saya menyangkut prinsip dan integritas, saya sulit untuk berkompromi.
Bagi saya, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan.
- Ada amanah di dalamnya.
- Ada tanggung jawab.
- Ada kejujuran.
- Dan ada pertanggungjawaban terhadap apa yang kita lakukan.
Mungkin itu pula yang membuat dalam berbagai kegiatan pengembangan diri dan pelatihan, saya sering berada di kelompok yang disebut tim kreatif.
Awalnya saya tidak terlalu mengerti mengapa.
Lama-lama saya menyadari:
Mungkin saya memang mempunyai kecenderungan untuk melihat kemungkinan yang belum dilihat orang lain.
Menulis sejak usia 17 tahun
Saya mulai menulis ketika berusia sekitar 17 tahun, saat kelas 2 SLTA.
Saya belajar sendiri.
Awalnya saya menulis cerita pendek hanya untuk konsumsi pribadi.
Kemudian saya mencoba mengirimkannya ke surat kabar.
- Dan saya mengalami penolakan.
- Berkali-kali.
- Tetapi ternyata penolakan tidak membuat saya berhenti.
- Justru saya penasaran.
Saya mulai mempelajari surat kabar yang saya tuju. Saya membaca tulisan-tulisan yang diterbitkan dan mencoba memahami tulisan seperti apa yang mereka anggap layak dimuat.
- Saya belajar dari penolakan.
- Pelan-pelan, tulisan saya mulai diterbitkan.
- Dari cerita pendek, saya kemudian beralih ke artikel populer.
- Kemudian perhatian saya berkembang ke bidang pengembangan diri dan sumber daya manusia.
- Perjalanan itu terus berjalan sampai sekarang.
Dari menulis dengan tangan, menggunakan mesin ketik, kemudian komputer, saya akhirnya memasuki dunia digital.
Dan sekarang saya kembali menulis dengan cara yang berbeda.
Dari manusia, teknologi, sampai kesadaran
Perjalanan belajar saya ternyata tidak berhenti pada satu bidang.
Saya pernah dan masih tertarik pada berbagai hal: manajemen manusia, pengembangan diri, teknologi, AI, dunia digital, bisnis, penulisan, kesehatan alami, hingga spiritualitas.
Sekilas bidang-bidang tersebut mungkin terlihat tidak berhubungan.
Tetapi bagi saya, semuanya mempunyai satu titik temu:
MANUSIA.
- Bagaimana manusia berpikir.
- Bagaimana manusia bekerja.
- Bagaimana manusia belajar.
- Bagaimana manusia mengambil keputusan.
- Bagaimana manusia menggunakan teknologi.
Dan yang semakin menarik perhatian saya:
- bagaimana manusia menyadari dirinya sendiri.
- Di sinilah perjalanan saya kemudian bergerak lebih dalam.
- Saya mulai semakin tertarik pada persoalan kesadaran.
- Bukan hanya kesadaran dalam arti mengetahui sesuatu, tetapi kemampuan untuk benar-benar hadir dan memperhatikan apa yang sedang kita lakukan.
Dari kesadaran menuju perjalanan spiritual
Sebagai seorang Muslim, perjalanan memahami kesadaran akhirnya membawa saya pada pertanyaan yang jauh lebih dalam.
- Mengapa kita sering tahu bahwa sholat itu penting, tetapi perhatian kita justru mudah pergi ke mana-mana?
- Mengapa tubuh kita berada di tempat sholat, tetapi pikiran kita berada di tempat lain?
- Mengapa kita bisa mengetahui sesuatu yang baik tetapi tetap sulit menjalankannya?
Dan mungkin pertanyaan yang paling sederhana:
Apakah kita benar-benar hadir ketika sedang beribadah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian mendorong saya menulis Kedipan Kesadaran.
Buku tersebut bukan saya tulis sebagai seorang guru agama.
Saya bukan ustadz.
Saya hanyalah seorang Muslim yang juga sedang belajar.
Kedipan Kesadaran adalah catatan perjalanan seorang Muslim yang sedang belajar mengembalikan perhatian dalam sholat.
Saya mencoba menuangkan pengalaman, pemikiran, latihan, dan refleksi yang saya jalani sendiri.
Bukan untuk mengatakan bahwa saya sudah sampai.
Justru sebaliknya.
Saya sedang berjalan.
Buku Kedipan Kesadaran, merupakan buku ke 5 saya, sebelumnya: Kunci Sukses Wawancara Kerja, Wanita, Pria, Bahagia Tanpa Mengejar Bahagia, Kedipan Kesadaran.
Blog ini adalah ruang perjalanan saya
Karena itu, blog bondansutedjo.my.id bukan saya bayangkan sebagai tempat untuk menunjukkan bahwa saya paling tahu.
Saya ingin menjadikannya sebagai ruang belajar dan berbagi. Blog ini merupakan blog sesi ke 2 saya. Sebelumnya blog saya: bondansutedjo.com telah rilis sejak tahun 2002, sudah close. Namun misi dan isinya masih dilanjut di blog ke 2 ini.
Di sini saya akan menulis tentang berbagai hal yang menarik perhatian saya:
- pengembangan diri,
- manusia dan sumber daya manusia,
- pengalaman kerja,
- menulis,
- teknologi dan AI,
- dunia digital,
- bisnis dan berbagai eksperimen,
- kesehatan alami,
- spiritualitas,kesadaran,
- serta refleksi tentang kehidupan.
Sebagian tulisan mungkin merupakan hasil pengalaman.
- Sebagian berasal dari proses belajar.
- Sebagian adalah hasil perenungan.
Dan mungkin ada pula tulisan yang sebenarnya merupakan pertanyaan yang sampai hari ini belum saya temukan jawabannya.
- Saya tidak ingin menyembunyikan hal itu.
- Karena menurut saya, belajar bukan berarti selalu mempunyai jawaban.
- Kadang belajar justru dimulai ketika kita berani mengatakan:
- “Saya belum tahu.”
- Saya masih dalam perjalanan
- Ada sesuatu yang berubah seiring bertambahnya usia.
- Ketika masih muda, kita mungkin lebih banyak mencari jawaban.
Semakin bertambah usia, saya justru semakin menikmati proses mencari.
- Membaca.
- Mencoba.
- Mengalami.
- Gagal.
- Mengamati.
- Berpikir.
- Merenung.
Kemudian mencoba memahami kembali.
- Saya juga semakin menyadari bahwa pengalaman hidup tidak akan banyak berarti jika hanya disimpan untuk diri sendiri.
- Karena itu, melalui tulisan, saya ingin membagikan apa yang saya temukan sepanjang perjalanan.
- Bukan karena semuanya pasti benar.
- Tetapi mungkin ada satu kalimat, satu gagasan, atau satu pengalaman yang kebetulan dibutuhkan seseorang yang sedang membaca.
- Kalau itu terjadi, bagi saya sudah cukup.
Selamat datang di ruang saya
Kalau Anda sampai di halaman ini, berarti Anda sudah sedikit mengenal siapa saya.
- Saya adalah Bondan Sutedjo.
- Seorang yang sejak muda senang belajar.
- Seorang pekerja yang berusaha memegang amanah.
- Seorang yang kadang berpikir berbeda.
- Seorang penulis yang mulai menulis sejak usia 17 tahun.
- Seorang pembelajar yang masih tertarik pada banyak hal.
Dan sekarang, seorang yang semakin tertarik memahami manusia, kehidupan, kesadaran, dan hubungan manusia dengan Tuhannya.
- Saya tidak tahu persis ke mana perjalanan ini akan membawa saya.
- Tetapi saya ingin terus berjalan.
- Dengan rasa ingin tahu seperti ketika masih remaja.
- Dengan keberanian untuk mencoba.
- Dengan keteguhan untuk memegang prinsip.
Dan dengan kerendahan hati untuk menyadari bahwa apa yang saya ketahui hari ini masih sangat kecil dibandingkan apa yang belum saya ketahui.
Mungkin itulah alasan saya masih terus belajar.
- Masih terus menulis.
- Masih terus mencari.
- Dan masih terus bertanya.
Karena perjalanan memahami kehidupan, mungkin memang tidak pernah benar-benar selesai.
Bondan Sutedjo
Belajar. Berpikir. Menulis. Mencari. Merenung. Berbagi.
Selamat datang di perjalanan saya.









